Keluhkan Kondisi DKI, Ramadhani Juarai Lomba Menulis Surat untuk Jokowi
metropolitan 21.13
JAKARTA, GM - Muhammad Ramadhani (16), adalah seorang
pelajar dari SMA 91 Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang menjuarai lomba menulis
"Surat Untuk Jokowi". Pria yang akrab disapa Rama ini menjadi juara 1
untuk kategori pelajar dengan judul tulisan " Jakarta Baru? Mungkin Gak
Sih?".
Rama awalnya tidak menduga dia bisa menjadi pemenang lomba
yang diadakan pada tanggal 12 Agustus hingga 17 September 2012 lalu.
Menurutnya, surat yang ditulisnya biasa-biasa saja, hanya ungkapan keluhan dan
harapan kepada Jokowi. Lomba penulisan ini dibuat oleh Jokowi-Ahok Social Media
Volunteers (Jasmev).
"Sebenarnya tulisannya biasa aja. Saya aja nggak
nyangka bisa menang. Itu hanya ungkapan perasaan saya saja," kata Rama di
hotel Novotel, Jl. Gajah Mada, Jakarta Barat, Rabu (24/10/2012).
Rama pun menilai Jokowi sebagai sosok yang memiliki
pemikiran maju, tidak mau mengikuti tradisi dan berbeda dengan birokrat
lainnya.
"Dia itu bukan orang biasa, beda dengan birokrat yang
lain. Dia itu muka kolot, tapi pemikirannya modern. Tidak mau mengikuti tradisi
yang ada," jelasnya.
Rama yang duduk di kelas 12 (kelas 3 SMA) jurusan IPS ini
mengaku jengah dengan suasana kota yang selalu dipenuhi dengan polusi,
kemacetan dan minimnya ruang terbuka hijau. Hal inilah yang dia ungkapkan dalam
surat yang dia ketik tak lebih dari 15 menit.
"Saya pingin Jakarta itu seperti kota-kota di Eropa,
trotoarnya lebar. Di mana-mana ada subway, kemana-mana tinggal keluar. Kalau di
sini mau kemana-mana harus pakai motor, beli mie ayam aja harus pakai
motor," jelasnya.
Berikut penggalan kalimat dalam surat yang ditulis oleh
Rama, sesuai dengan tulisan aslinya:
Gw mau bahas mengenai transportasi dan fasilitas nih Pakde.
Masalah yang mendasar tentang transportasi itu adalah kurangnya angkutan umum
yang nyaman dan massal. Gini aja dah, gw jalan dari Pondok Gede ke Ciputat. Itu
kalo gw naek angkot, notabene gw harus muter-muter naek turun angkot dengan
biasa bisa sampe 6000 sekali pergi. Tapi kalo gw bawa motor, dengan duit 10.000
itu bisa buat pulang pergi sampe 3 hari ke depan dengan jarak yang sama.
Intinya masyarakat DKI dan pinggiran DKI itu lebih mementingkan menggunakan
kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Kapan sih Jakarta bisa manusiawi?
Jalan-jalan ke kota bisa dengan jalan kaki tanpa harus diseruduk dari belakang
oleh angkot ato ditabrak ma motor yang nyelonong masuk ke trotoar?. Kenaikan
TDL Lemahkan Sektor Produktif. (Jitro Jefrika/ Indra Wahyu Setiawan)
JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :
