Belajar Dari Kerusuhan TKI & TKW di Jeddah Arab Saudi : Betapa Abainya Pelayanan Pemerintah Pada Rakyat

Oleh : En Jacob Ereste

Pernyataan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur, akan memberi bantuan hukum kepada puluhan tenaga kerja Indonesia yang ditangkap polisi Arab Saudi, sungguh naib[1]. Karena bantuan serupa itu meruakan kewajiban yang harus diberikan kepada segenap warga Negara Indonesia yang berada di wilayah diplomatik kekuasaannya selaku duta besar yang mewakili pemerintah maupun Negara Indonesia. Sejumlah TKI yang ditangkap itu diduga menjadi provolator atau penyulut kerusuhan di KJRI Jeddah Arab Saudi pada Minggu, 9 Juni 2013.

Gatot Abdullah Mansyur mengatakan polisi menangkap mereka karena diduga terlibat dalam insiden di depan gedung Konsulat Jeddah. Dugaannya terhadap para TKI itu ilegal karena izin tinggalnya sudah kedaluwarsa (overstay), tentu saja dapat dipastikan, karena kehadiran mereka di lokasi kejadian hendak memperoleh lelagilats surat sehingga memungkinan untuk tinggal di Jeddah dan sekitar sekaligus mempermudah usaha mencari pekerjaan. Insiden di Konsulat Jeddah terjadi saat ribuan TKI datang untuk mengurus pemutihan dokumen masa tinggal yang telah habis atau TKI yang tidak memiliki dokumen resmi. Kerusuhan pecah setelah beredar kabar batas waktu pemutihan telah habis. Kabar ini membuat massa mengamuk. Mereka membakar berbagai peralatan di depan gedung Konsulat Jenderal RI. Padahal sebenarnya batas akhir adalah 3 Juli mendatang.

Dalam kontesk ini saja, cukup meyakinkan pelayanan yang diberikan pihak KJRI Jeddah – yang mewakili seegnap otoritas pemerintah Indonesia – tidak maksimal diberikan. Bagaimana mungkin berita yang menakutkan para pendamba surat legailtas keberadaan mereka untuk kemudian memuluskan upaya mencari pekerjaan yang lebih baik seakan menajdi terancam. Akibatnya, bila TKI dan TKI di Jeddah itu tidak memiliki surat-surat yang lengkap, maka ancamannya akan menjadi panjang, atau minimal dikembalikan secara paksa ke kampung halaman. Sementara di Indonesia sendiri sudah bisa dibayangkan, bukan hanya akan kesulitan memperoleh pekerjaan, tetapi mendapat pekerjaan pun umumnya upah yang diterima tidak akan mencukupi keputuhan sehari-hari.

Itulah agaknya yang menghantui rasa takut para TKI dan TKW yang bekerja di negeri orang itu. Mereka sudah berupaya untuk memperoleh surat-surat resmi yang menyatakan legalitas keberadaannya, namun pelayanan yang diberikan pihak KJRI Jeddah di Arab Saudi tidak maksimal, atau bahkan terkesan sangat disepelekan. Setidaknya, itulah tampaknya yang menyebabkan menyulut kepanikan para TKI dan TKW di Jeddah, sehingga memantik kerusuhan yang tidak diinginkan. Lantaran kejadian serupa itu sungguh sangat memalukan bagi bangsa dan Negara Indonesia. Masalahnya, selain warga Negara Indonesia sudah berbondong-bondong mencari pekerjaan di negeri orang, lantas membuat kegaduhan pula.

Padahal, masalahnya bermula dari ketidakmampuan pemerintah menciptakan lapangan kerja di dalam negeri, sehingga banyak warga masyarakat kita yang mencari alternative sendiri untuk bekerja di luar negeri, kendatipun taruhannya memang tidak tidak alang kepalang. Mulai dari harga diri sampai kehilangan nyawa sebagaimana yang sudah banyak dialami para TKI dan TKW kita. Oleh akerna itu, alternative pilihan adalah mendukung keberadaan TKI san TKW kita di luar negeri harus mendapat perhatian ekstra. Utamanya peranan yang harus dilakukan BNP2TKI – karena meliputi pengawsan dan penembapatan – maka selayaknya wajib dan harus ditingkatkan. Pemerintah tidak patut menunggu reaksi berbagai pihak – apalagi setelah kejadian berlangsung – namun dapat melakukan antisipasi sebagaimana sepatutnya untuk melakukan perlindungan bagi segenap warga bangsa Indonesia.

Kecuali itu, toh pemerintah sendiri telah mengakui TKI dan TKW kita itu sebagai pahlawan devisi bagi Negara. Lalu bagaimana dengan imbalannya – semacam perlindungan dan pelayanan yang seharusnya diberikan agar keberadaan TKI dan TKI kita dapat lebih baik dan bersemangat melakukan pekerjaannya sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing. Sepatutnya pemerintah mengantisipasi manakala sejumlah TKI dan TKW itu terpaska harus pulang ke tanah air karena tidak memperoleh surat legalitas keberadaan diri meereka di negeri orang itu, maka dapat segera dibayangkan yang bakal terjadi adalah menimbulkan masalah tersendri. Setidaknya, untuk para TKI dan TKW yang pulang ke tanah air secara terpaksa itu akan ikut berdesak-desak dengan sejumlah tenaga kerja yang lain maupun angkatan kerja yang baru dalam memperebutkan lapangan pekerjaan yang sungguh sangat terbatas di Indonesia.

Kalau pun semua dapat tertampung dan berjalan mulus memperoleh pekerjaan, tentu saja tetap akan mepunyai dampak bawaan. Padahal, sudah dapat diperkirakan untuk para TKI dan TKW yang tidak memperoleh pekerjaan di tanah air setelah pulang dari negeri orang itu, pasti akan menimbulkan masalah tersendiri. Jangan-jangan akibat dari kebiasaan hidup relative enak selama bekerja di luar negeri itu akan menimbulkan efek yang sangat kuat dalam mempengaruhi tatanan sosial masyarakat sekitarnya. Apalagi kemudian, sangat mungkin menimbulkan penyakit sosial yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. 

Betapa seriusnya pihak KBRI Jedah[2] hingga Kementerian Polhukam[3] – bahkan Presiden – blingsatan memberikan reaksi atas kerusuhan di Jeddah itu, sementara Menakertrans Muhaimin Iskandar justru menyatakan sebaliknya[4]. Kekisruhan keterngan yang disampaikan pejabat pemerintah itu, semakin mengesankan kepanikan daam menghadapi masalah bangsa, sehingga harus dimanipulasi sedemikian rupa agar tidak memebri kesan kesalahan fatal telah dilakukan akibat abai dan selalu mengenggap enteng masalah yang dihadapi rakyat. Bagiaman mana mungkin pernyataan Menakertrans saja sudah memberikan kesan yang berbeda dengan apa yang disampaikan Kepala BNP2TKI. Lalu bagaimana dengan kalim Menkopulhukam hingga Presiden ?

Kegaduhan dalam memberikan keterangan kepada masyarakat serupa itu saja sudah menunjukkan tingkat faliditas informasi yang disampaikan pihak pemerintah semakin tidak dapat dipercaya oleh masyarakat. Atau, masing-masing pejabat tersebut memang mewakili dirinya masing-masing untuk sekedar tampil hingga mengesankan kepedulian yang tinggi guna menangguk pencitraan menyonsong Pemilu 2014 ?
Sungguh naib dan tragis sejumlah pemimpin unyuk negeri ini. Bagaimana mungkin antara yang satu dengan yang lain saling berbeda – bahkan – saling bertentangan, sehingga membuat rakyat semakin bingung. Konsekuensi logisnya, pada akhirnya rakyat akan mencari kebenaran sendiri sesuai dengan kemampuan dan wawasan yang dimiliki. Pada gilirannya, tidandakan yang akan diambilpun oleh masyarakat dalam menyikapi segala sesuatu yang berkaitan dengan kapasitas dan otoritas masing-masing, akan dilakukan sesuai dengan selera dan pemikiran masing-masing. Oleh karena itu, tingkat kepatuhan warga masyarakat terhadap aparat pemerintah – yang selayaknya menjadi panutan serta contoh dalam tata kehidupan sehari-hari – semakin tidak bida dipegang atau ditaati, atau bahkan cenderung menajdi cemoohan karena tidak dapat dijadikan panutan maupun contoh. ***

JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :



Dikirim oleh GLOBAL MEDIA online pada 20.57. dan Dikategorikan pada . Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas

.

.

.


.

.

Pengunjung Online

2010 Global Media Online. All Rights Reserved. - Designed by Global Media Online